BELANJA LEWAT POS

Beranda Produk Cara Belanja Info Bisnis Tentang kami

Penerbitan Prangko

Burung Terancam Punah

Terbit : 15 Juli 2012

(Prangko, Minisheet, SHP)

Celepuk Siau (Otus siaoensis)

Satu-satunya informasi yang menjelaskan keberadaan jenis ini adalah spesimen yang dikoleksi saat eksplorasi Pulau Siau, Sulawesi Utara, pada 1866. Spesies ini merupakan satu-satunya jenis dari marga Otus di Pualau Siau. Sebelumnya dianggap anak jenis dari Otus magicus, hingga tahun 1998, celepuk Siau ditetakan sebagai jenis tersendiri. Termasuk kelompok Strigidae, burung ini berukuran sekitar 17 cm. Pemangsa avertebrata noktural ini memiliki kepala dan kaki relatif besar. Tubuhnya didominasi berwarna coklat. Terdapat tonjolan bulu seperti telinga yang memanjang dari alis. karena kecilnya habitat dengan tingkat deforestasi yang diperkirakan cukup tinggi di Pulau Siau, jenis ini memperoleh status Kritis. Survei menyeluruh diperlukan untuk melengkapi informasi ekologi dan jumlah populasinya.

Elang Flores (Nisaetus floris)

Pada tahun 2004 melalui pendekatan genetika, morfologi dan pola persebaran, para ahli taksonomi menetapkan jenisyang berkerabat dekat dengan Nisaetus cirrhatus ini sebagai jenis tersendiri. Elang berukuran sekitar 71 hingga 82 cm ini tercatat sebagai jenis penetap yang hanya terdapat di kawasan Nusa Tenggara bagian utara, tersebar di Taman Nasional Rinjani Pulau Lombok, Sumbawa dari Flores, serta pulau kecil Satonda dan Rinca. Burung ini dijumpai di hutan dataran rendah dan submontana sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Kecenderungan penurunan jumlah populasi elangflores berkaitan erat dengan penyusutan luas tutupan hutan di kawasan Nusa Tenggara serta penangkapan dan perdagangan ilegal. Badan Konservasi  Dunia (IUCN) menetapkan elang Flores sebagai jenis terancam punah berstatus Kritis.

Burung madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodel)

Jenis burung madu yang ini hanya dapat dijumpai di Pulau Sangihe Sulawesi Utara dengan populasi yang tersebar secara terpisah. Menyusutnya hutan primer dan sekunder menyebabkna IUCN menempatkannya sebagai jenis yang Genting. Kepadatannya sangat rendah, kecuali di lokasi Pegunungan Sahendaruman. Berukuran sekitar 12 cm, seperti umumnya burung madu, jenis ini berwarna cerah. Individu jantan memiliki bulu penutup telinga dan kerah belakang berwarna ungu-kemerahan, mahkota berwarna hijau dan biru metalik, serta punggung zaitun kekuningan. Individu betina berwarna lebih pucat. Selain di hutan alami, burung ini dapat dijumpai di habitat yang telah dimodifikasi seperti perkebunan campuran, kebun kelapandan pinggir hutan primer hingga pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut.

Mandar gendang (Habroptila wallacii)

Spesies yang hanya dijumpai di Pulau Halmahera, Maluku Utara ini memiliki jumlah populasi yang kecil dan terus menurun. Akibat habitatnya yang terfragmentasi sehingga IUCN menetapkannya dengan status Rentan. Burung misterius yang tidak dapat terbang ini berukuran sekitar 40 cm. Seluruh tubuhnya didominasi bulu abu-abu gelap, agak kecoklatan pada bagian sayap, punggung bawah dan ekor. Bagian kaki, lingkaran mata dan perisai dahi berwarna merah menyala. Jenis ini mendiami hutan rawa sagu lebat terpencil dan sulit diakses, tepi rawa kaki bukit dan semenanjung yang menjorok ke daerah rawa. Berdasarkan hilangnya habitat akibat dari permanen sagu secara komersil, populasi mandar gendang diperkirakan terus menurun termasuk juga akibat dari predator dan aktivitas perburuan.

SHP Rp 12.000,-

 

Google